0

Aborsi dan Peran Perawat Islam dalam Mencegah Aborsi

PERAN PERAWAT ISLAM MENCEGAH ABORSI
Kehidupan merupakan suatu anugerah yang diberikan oleh Allah SWT, apa yang diciptakan oleh-Nya merupakan suatu berkah yang patut disyukuri. Kehidupan merupakan suatu bentuk dari keindahan-Nya, bersyukurlah kita masih diberi kehidupan yang merupakan nikmat Allah SWT. Kita dilahirkan dengan sempurna tanpa kekurangan, berbahagialah dan bersyukurlah. Banyak dari kita yang tahu bahwa kehidupan merupakan sesuatu yang berharga, tetapi masih banyak juga oknum-oknum kurang bertanggung jawab terhadap sebuah amanat yaitu kehidupan. Oknum-oknum tersebut tega merenggut nyawa janin yang berada di dalam kandungannya yang disebut dengan aborsi.
Berikut akan saya bahas mengenai “Aborsi dan Peran Perawat Islam dalam Mencegah Aborsi”.
I.    Pengertian Aborsi
Aborsi berasal dari bahasa latin Abortus provocatus yang artinya pengguguran janin secara sengaja. Aborsi atau Abortus provocatus adalah dikeluarkannya janin dari rahim sebelum waktunya (Kusmariyanto, 2002: 203). Pengertian itu menjelaskan bahwa keluarnya janin secara sengaja dengan melibatkan tangan manusia dapat melalui beberapa cara, seperti mekanik, obat atau yang lainnya.
Dalam dunia kedokteran abortus berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Hal ini merupakan suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh.
Secara bahasa aborsi adalah pengguguran kandungan (janin), artimya membuang anak sebelum sempurna dan disebut dengan menggugurkan janin. Atau bisa juga diartikan sebagai lahirnya janin karena dipaksa atau lahir dengan sendirinya.

II.    Macam-macam Aborsi
Menurut perspektif fiqih, aborsi digolongkan menjadi lima macam, diantaranya :
a.    Aborsi spontan ( al-isqath al-dzaty)
Merupakan suatu kejadian dimana janin gugur secara alamiah tanpa adanya pengaruh dari luar, atau gugur dengan sendirinya. Biasanya disebabkan oleh kelainan kromosom. Dan sebagian kecil disebabkan oleh jamur, kelainan rahim atau kelainan hormon. Kelainan kromosom memungkinkan mudhgah tumbuh tidak normal, dan apabila terlahir akan memberikan cacat bawaan.
b.    Aborsi karena darurat atau pengobatan (al-isqath al-dharry/ al-ilajiy)
Aborsi ini dilakukan apabila kandungan terindikasi mengancam nyawa ibu apabila kehamilannya tetap dilanjutkan. Dan yang dianggap lebih ringan resikonya adalah mengorbankan janin. Kaidah fiqih yang mendukung :
“ Yang lebih ringan di antara dua bahaya bisa dilakukan demi menghindari resiko yang lebih membahayakan” [8]
c.    Aborsi karena khilaf atau tidak disengaja (Katha’)
Aborsi dilakukan karena tidak disengaja, dilakukan tanpa sengaja. Hal ini dilakukan oleh seseorang yang tanpa sengaja mencelakai ibu yang mengandung sebuah janin, yang menyebabkan janin harus dikeluarkan dari kandungan. Apabila janin tersebut keluar dalam keadaan meninggal  maka pelaku harus membayar denda bagi kematian janin atau uang kompensasi bagi keluarga janin.
d.    Aborsi yang menyerupai kesengajaan (Syibh ‘amd)
Aborsi ini terjadi apabila ibu yang mengandung janin memnerima perlakuan yang kasar dari seseorang, meskipun yang diserang adalah ibunya yang mengakibatkan keguguran sehingga janin keluar dari rahim ibunya, maka pelaku berhak mendapatkan hukuman. Dan hukuman semakin bertambah berat apabila janin yang keluar tersebut sempat menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
e.    Aborsi sengaja dan terencana (al-‘amd)
Merupakan suatu tindakan yang disengaja untuk menggugurkan janin yang ada di dalam kandungan dengan cara meminum obat-obatan, meminta bantuan oranglain (dokter, dukun, dsb) untuk menggugurkan janinnya. Aborsi ini dianggap sebagai perbuatan yang melanggar hukum sehingga pelakunya patut untuk diberi hukuman karena dianggap sebagai tindak pidana yaitu menghilangkan nyawa anak manusia dengan sengaja. Sanksinya menurut fiqih adalah qishas.
Dalam dunia kedokteran dikenal 3 macam aborsi, yaitu :
a.    Aborsi spontan/ alamiah
Berlangsung tanpa tindakan apapun, yang disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma.
b.    Aborsi buatan/ sengaja
Pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu dan pelaksana aborsi itu sendiri (dokter, bidan, dukun).
c.    Aborsi terapeutik/ medis
Pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Karena adanya riwayat penyakit yang menyebabkan kandungan tidak bisa dipertahankan, hal ini berdasarkan keputusan yang matang dan tidak tergesa-gesa.
III.    Hukum melakukan Aborsi.
Menurut agama Islam hukum menggugurkan kandungan pada dasarnya adalah haram. Namun sebagian ulama memperbolehkan aborsi sebelum usia janin 40 hari terhitung sejak pembuahan. Menurut ilmu kedokteran hal ini dapat diketahui dari hari pertama haid terakhir. Mengenai hukum menggugurkan kandungan itu sendiri dibagi menjadi 2 :
a.    Setelah ditiupnya ruh
Ditiupnya ruh/nyawa pada janin yang berada dalam kandungan  berarti janin tersebut sudah hidup, adapun masa ditiupnya ruh adalah 120 hari (4 bulan) sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits :
“Sesungguhnya setiap orang dari kalian dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selamaempat puluh hari, kemudian menjadi ‘alaqah (zigot) selama itu pula kemudian menjadi mudghah (segumpal daging), selama itu pula kemudian Allah mengirim malaikat yang diperintahkan empat ketetapan dan dikatakan kepadanya, tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya dan sengsara dan bahagianya lalu ditiupkan ruh kepadanya.” (Shohih Bukhori no.3208 dan Shohih Muslim no. 2643)
Semua ulam sepakat bahwa pengguguran janin setelah berusia 120 hari/4 bulan, hukumnya adalah haram.
b.    Sebelum ditiupnya ruh
1.    Hukumnya haram secara mutlak
Merupakan sebuah pendapat dari “ al-aujah” dalam madzhab Syafi’i, yang didukung oleh Syekh Ibnul imad dan beberapa ulama dari madzhab Syafi’i.
Alasannya karena ketika air mani telah sampai di rahim, maka mani tersebut sudah akan tiba waktunya dan siap untuk ditiupkan ruh.
Imam Malik rohimahulloh mengatakan : “Semua yang digugurkan oleh seorang wanita, baik itu berupa gumpalan daging (mudghoh) atau segumpal darah (‘alaqoh) adalah suatu kejahatan (jinayah).”
2.    Boleh secara mutlak
Pendapat ini diikuti oleh  Syekh abu Ishaq Al-Maruzi dari kalangan madzhab Syafi’i, bahkan menurut Imam Romli pendapat yang rojih (unggul) adalah diperbolehkannya menggugurkan kandungan sebelum ditiupnya ruh.
3.    Boleh apabila ada udzur
Pendapat madzhab Hanafi, sebagian udzur yang memperbolehkan pengguguran kandungan sebelum ditiupnya ruh, sebagaimana dijelaskan Syekh Ibnu Wahban. Semisal ketika seorang wanita sudah dinyatakan positif hamil, namun air susunya tidak bisa keluar, sedangkan ayah dari bayi tersebut tidak memiliki uang untuk menyewa wanita untuk menyusui anknya ketika bayinya lahir nanti, dan dikhawatirkan apabila kandungan tersebut tidak digugurkan, nanti saat bayi tersebut lahir akan mati  karena ibunya tidak bisa menyusui.
4.    Makruh secara mutlak
Pendapat ini disampaikan oleh Imam Romli dari kalangan madzhab syafi’i, yang menyatakan bahwa hukum pengguguran kandungan sebelum ditiupnya ruh itu dimungkinkan makruh tanzih atau makruh tahrim.
Dengan hal yang telah disampaikan sudah sangat jelas bahwa Islam sangat menghargai nyawa manusia meskipun masih berupa janin.
IV.    Peran perawat dalam mencegah Aborsi.
Sebagai tenaga pelayananan kesehatan seorang perawat harus mampu mengetahui permasalahan-permasalahan terkait dengan peran dan fungsinya. Sebagai perawat memberikan edukasi merupakan hal paling pokok yang bisa dilakukan untuk mencegah tindakan aborsi. Memberikan wawasan kepada generasi muda untuk membuka pikirannya dan melihat masa depan. Perawat juga harus mampu berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk mencegah tindakan aborsi, kita harus mampu mengupayakan jalan yang terbaik untuk klien tanpa harus membahayakan nyawanya. Menjadi penasehat kepada mereka-mereka yang hendak menggugurkan janinnya , bahwa janin tersebut merupakan sebuah anugerah dan bentuk kebesaran dari Allah SWT yang mana tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa jika harus dibunuh dan diperlakukan dengan kejam.
Referensi :
Anonim, tanpa tahun. Definisi Aborsi. http://www.aborsi.org/definisi.htm%5Bdiunduh pada tanggal 21 Juni 2015]
Anonim, 2015. 5 Macam Aborsi menurut Fiqih. http://makassar.tribunnews.com/2015/05/31/ini-aborsi-yang-dibolehkan-islam-ada-5-macam-aborsi-menurut-fiqih?%5Bdiunduh pada tanggal 21 juni 2015]
Anonim. Tanpa tahun. Agama dan Aborsi. http://www.aborsi.org/agama-aborsi.htm [diunduh pada tanggal 21 Juni 2015]
Anonim, 2014. Hukum Aborsi dalam Islam. http://m.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s, details-ids,1-id,55645-lang,id-c,syariah-t,Hukum+Aborsi+dalam+Islam.phpx [diunduh pada tanggal 21 Juni 2015]

0

Halo dunia!

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika Anda menyukai, gunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengapa Anda memulai blog ini dan apa rencana Anda dengan blog ini.

Selamat blogging!